Bismillahirrahmaannirraahiim

July 27, 2017

Segala puji dan syukur sepatutnya hanya ditujukan untuk Allah SWT, Sang Maha Pencipta yang menebarkan kasih sayang untuk semua makhluk-Nya, yang maujud dalam bentuk materi fisik maupun yang diselimuti kegaiban-Nya dan yang menggenggam kehidupan semua makhluk-Nya.

Shalawat dan salam kusampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai maujud Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifat-Nya yang paripurna, Adimanusia, Insan Kamil dan Gurujati semua manusia, keluarga dan kerabatnya, para sahabatnya, para aulia dan para pewaris serta penyampai ilmunya, yang meneruskan rahmatnya kepada seluruh alam dan penghuninya, yang merentang menembus batas-batas ruang-waktu : dulu, kini dan nanti.

Menulis sebuah risalah keagamaan, nampaknya sudah menjadi takdir bagi sebagian kecil manusia yang kita sebut sebagai wali, ulama, dan para agamawan lainnya. Demikian juga, ketika seseorang yang awam dalam masalah teknis keagamaan kemudian menuliskan risalah tentang Tuhan, alam , dan manusia dalam citarasa keagamaan, pengetahuan, dan perenungan diri, maka itu juga merupakan suatu takdir yang sudah digariskan-Nya. Pada dasarnya, setiap orang yang beragama dan ber-tauhid dengan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai cita rasa atas keberagamaannya selama ini. Ketika suatu saat, dorongan untuk menuliskan cita rasanya menjadi suatu pengungkapan dan penyaksian tentang ketauhidan Allah Yang Esa maka muncullah sebuah buku. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, demikian Nabi SAW pernah bersabda. Maka, kutuliskanlah apa yang saya rasakan selama ini sesuai dengan apa yang disarankan di dalam Al Qur’an “Dan adapun nikmat Tuhanmu, maka beritakanlah” (QS 93:11). Sebagai orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan keagamaan formal, menuliskan tentang dirinya, kemudian mengaitkannya dengan Tuhannya, adalah sebuah upaya panjang pembelajaran yang diserapnya dari berbagai peristiwa yang dilihat dan dialami sepanjang perjalanan kehidupannya.

“Kun” secara harfiah berarti “Jadilah!”. Dalam konteks penciptaan “Kun” adalah firman Allah SWT yang Maha Berkehendak untuk menciptakan alam semesta dan semua makhluk-Nya. Dalam citarasa saya sebagai seorang Muslim, “Kun” adalah suatu catatan sejarah kehidupan yang hakikatnya baru disadari setelah menjelang memasuki usia ke-40 ini. Itulah hakikat yang tanda-tandanya tanpa saya sadari sebenarnya sudah tertera sejak dini, kebiasaan-kebiasaan semenjak kecil yang diam-diam terhimpun, yang kemudian (disadari atau tidak) menjadi pilihan hidup, dipaksa atau tidak kemudian menjadi suatu profesi, dan akhirnya “menemukan” dan “ditemukan” untuk kembali memaknai semua kehidupan yang dialaminya sebagai bagian dari firman “Kun Fayakuun”; sebagai bagian dari sejarah penciptaan alam semesta, bagian dari sejarah manusia sejak Dia putuskan Nabi Adam a.s. menghuni Planet Bumi untuk melakukan pembelajaran guna mengenal-Nya.

Risalah “Kun Fayakuun” ini cuma sepercik citarasa atas perjalanan panjang kehidupan pribadi saya yang kujalani sebagai hamba-Nya yang tinggal di Bumi. Dalam banyak aspek, risalah ini ternyata menyingkapkan hakikat tentang Totalitas Tauhid bagi hamba Allah, hakikat yang sebenarnya sudah sering kita ucapkan dengan kata-kata (namun seringkali cuma sekedar diucapkan tanpa pengertian dan makna yang hakiki) bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, boleh juga dikatakan bahwa risalah ini adalah risalah tentang ketauhidan sebagai rahasia dan ruh dari makrifat (semua perjalanan ruhaniah untuk mengenal dan sampai kepada Allah) manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Esa.

 

Setiap orang mungkin memaknai kehidupannya berbeda-beda sesuai dengan takaran yang sudah Dia tetapkan di alam tinggi sana. Setiap orang mungkin bisa setuju atau tidak setuju atas apa yang dipaparkan di risalah ini. Itulah fitrah, yang mau tak mau harus digali oleh masing-masing orang secara personal, agar ia bisa mengenal siapa diri sesungguhnya. Apakah cuma sekedar seonggok makhluk organis yang kebetulan dilahirkan dari birahi seksualitas kedua orang tuanya, keluar dari alam ruh dan menangisi keterpisahannya sebagai tangis bayinya yang pertama, menjalani kehidupan kanak-kanak, remaja, dewasa, dan akhirnya mati; atau sebagai seorang makhluk sempurna (manusia sebagai hamba Allah) yang diciptakan Yang Maha Esa untuk kembali mengenal-Nya sebagai Tuhannya Yang Esa, akan kembali kepada-Nya, dan memasuki realitas-Nya. Saran dan kritik kalau memang ada sangat saya harapkan untuk semakin memperbaiki isi maupun kualitas penyajian dan pemaparan berbagai gagasan dalam risalah ini.

Akhir kata, sebelum saya mengakhiri kata pengantar ini, saya ingin sekali mengucapkan banyak terimakasih dan mohon ampun sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya (Almarhum Ibu Masjatim dan Bapak Idris) dan adik-adik saya (Ida, Evi, & Rudy) atas pengertiannya selama ini. Tak lupa saya ucapkan banyak terimakasih kepada Syekh Shalahuddin Abdul Djalil Mustaqiim (Gus Sholeh), Bapak M. Luqman Hakiem guru mursyid di Jakarta, dan teman-teman pengajian al-Hikam Jakarta yang sudah memancarkan cahaya keruhaniannya selama ini. Demikian juga kepada para guru dan dosen saya dari SD sampai Perguruan Tinggi, para guru mengaji, teman-teman dan sahabat saya, yang selama ini banyak memberikan warna-warni kehidupan di dunia ini. Juga kepada mereka yang sudi mengikatkan ilmu pengetahuan-Nya menjadi “buku”, sehingga saya bisa membaca dan merenungkannya, dan mengutip pendapat dan pandangannya untuk melengkapi risalah ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal dan selalu melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Akhir kata, semoga risalah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb

Jakarta, 9 Agustus 2014 (revisi terkini)
Atmonadi

No Comments