Prolog

July 27, 2017

Risalah ini semula penulis susun sebagai suatu “Buku Besar” dalam arti yang sebenarnya. Besar dalam jumlah halaman yang mencapai 1000 halaman lebih, dan besar dalam arti penulisannya karena melibatkan berbagai cabang ilmu pengetahuan manusia masa lalu maupun masa kini yang oleh kebanyakan orang diungkapkan dengan bahasa yang “sulit” dipahami.

Masalah bahasa memang menjadi suatu kendala utama sejak dahulu kala ketika suatu gagasan diungkapkan kepada masyarakat kebanyakan. Dan karena bahasa pula sampai hari ini kita pun seringkali salah paham untuk memahami arti satu hal yang sama. Dalam risalah ini bahasa “agama” dan bahasa “ilmu pengetahuan modern” yang sering disebut sebagai “sains” saya coba pertemukan dengan perspektif yang lebih cair bahwa antara “ilmu agama” dan “ilmu pengetahuan lainnya” sebenarnya mengamati suatu hal yang sama dan bersandar pada pijakan yang sama. Yang satu disebut “Tauhid” dan disisi yang lain disebut sebagai “bilangan imajiner atau akar -1” sampai akhirnya menjadi bilangan mutlak 1.

Yang satu berbicara secara simbolik karena keterbatasan pemahaman untuk mengungkapkan dengan rasional dan gamblang tentang hakikat “Tauhid” dari sisi ruhaniah, di sisi yang lain lagi “sangat reduksionis” dan sangat “menyederhanakan” sehingga bilangan 1 “just only” bilangan 1 semata yang hanya berarti jika “ada benda” yang terukur dengan berat 1 kilogram, panjang 1 meter, dimensi panjangxlebar 1 satuan atau satuan lainnya yang dapat diraba, dapat dipegang dan dapat dimiliki. Perhatikan bahwa kesahihan sains bersandar pada fakta apa yang terukur, padahal masalah pengukuran ini sebenarnya sudah diisyaratkan Al Qur’an dengan jelas sebagai salah satu sifat Allah sebagai Pencipta.

Walhasil, setelah ribuan tahun manusia memenjarakan diri dalam “gudang-gudang semantik kebahasaan” satu hal yang sama menjadi begitu sangat berbeda sehingga yang muncul justru penjara-penjara “akal dan hati” sebagai “Penjara Selain Allah”. Akal pun menjadi naif , “kaku” dan tidak lentur malah menjadi getas dan mudah “patah sehingga menjadi bodoh”. Hatipun mengalirkan emosi yang kering dan akhirnya sama sekali gersang dan berlumpur yang akhirnya emosipun menjadi mudah “berantakan menjadi liar dengan semburan api amarah”.

Kepatahan itu bisa menjadi-jadi sehingga muncul pengertian-pengertian yang sejatinya “menyesatkan” karena sumber yang sama dikatakan menjadi berbeda. Ketika seorang penganut agama mengatakan sumbernya dari Tuhan Yang Maha Esa bernama A, maka agama yang lain mengatakan juga sumber pengetahuannya dari Tuhan bernama B, ketika kaum yang dulu disebut “orang berilmu (dengan banyak ilmu)” berubah gelarnya menjadi sekedar gelar “ilmuwan (dengan spesialisasi khusus dalam segmen sempit)” dari sudut pandang pengamatannya mengatakan sumbernya juga “akalnya” sebagai “Tuhannya” maka pecah perang kata-kata dan istilah-istilah sampai-sampai lupa bahwa Tuhan itu hanya Satu, Dialah Yang Maha Esa, dengan simbol Bilangan 1 yang menjadi dasar sebagai Aksioma Mutlak Benar.

Maka syirikpun menyelimuti orang yang mengaku bertuhan satu dengan orang yang mengaku bertuhan lainnya karena satu sama lain tanpa sadar “mengakui” adanya “Tuhan yang lain”. Tuhan menjadi tidak “Maha Esa” manakala kita terjebak penjara “Selain Allah” yang muncul sebagai “nama-nama dan istilah-istilah” yang asing dan tak dikenal, padahal sejatinya semua itu sekedar simbol-simbol dari sumber yang sama yaitu “Dia Yang Maha Esa”, yang kita sebut “Allah, Tuhan, YHWH, atau pun istilah di bahasa lainnya”.

Kalau saya ringkas, gagasan asli risalah ini dalam bentuk aslinya yang paling singkat, semua gagasan yang tertulis menjadi ribuan lembar ini cuma terdiri dari 4 dijit “1001” atau dalam ungkapan yang berbunyi cuma terdiri dari 23 karakter “Kisah seribu satu malam” (dengan 20 huruf dalam Bahasa Indonesia dengan 3 spasi kosong). Jadi, kalau hanya ditulis 4 dijit atau 23 karakter saja risalah ini tidak akan pernah dikatakan menjadi “risalah” maka dari 4 dijit itu saya uraikan menjadi risalah panjang “Kun Fayakuun” yang terdiri dari ribuan dijit dan karakter, ribuan kata dan kalimat, yang akhirnya saya pisahkan menjadi 34 keping risalah (untuk versi terakhir ini).

Selama menulis dan mengoreksi risalah ini, khabar duka cita penulis terima, guru mursyid penulis Hadlratusy Syeikh KH. Abdul Djalil Mustaqiim yang mempunyai panggilan akrab “Pak Yai”, mursyid Tarikat Syadziliyah-Qadiriyah-Naqsyabandiyah Pondok Pesantren PETA Tulungagung, kembali kepada Kekasih Sejatinya. Beliau wafat tidak lama setelah Tsunami Aceh 26 Desember 2004, yaitu pada tanggal 7 Januari 2005 jam 2:30 di Tulungagung.

Innalillaahii Wa Innaa Ilaihi Rojiun.

Semoga keharuman beliau yang semerbak menebarkan nafas ar-Rahmaan menjadi suri tauladan bagi generasi murid Thariqah Syadziliyah selanjutnya. Tiga tahun kemudian, Ibunda saya Masjatim kembali ke hadirat Allah SWT, semoga ridho Allah selalu bersamanya. Beberapa tahun kemudian, salah satu tokoh PETA pun menyusul yaitu Mbah Ghofur. Kemudian susul menyusul guru saya semasa kuliah yang saya hormati yaitu Prof. Said D. Djenie dan Prof. Oetarjo Diran kembali kepada Sang Khaliq.

Akhir kata, di halaman prolog ini saya cuma bisa mengungkapkan dengan kata-kata yang lebih ringkas tentang semua kisah yang dituliskan menjadi risalah panjang ini sebagai suatu ungkapan dzauqi sebagai wujud citarasa tertinggi dalam memaknai apa yang ditulis dalam risalah ini. Saya memberinya judul Kemahaagungan dan Kemahaindahan sebagai suatu ungkapan tentang asma Jalal dan Jamal Allah SWT, yang pada akhirnya adalah Tauhid Hamba Allah.

Tauhid Hamba Allah

dari setiap titik,
dari setiap huruf,
dari setiap ayat,
dari setiap surat,
kusisiri gelombang demi gelombang firman-firman-Mu (al-Quran),
yang muncul mengayun dari Samudera Af’al
membawaku pada pengenalan kepada-Mu.
Ya Allah,
entah perahu apa yang Engkau sediakan untukku,
gelombang demi gelombang yang kulalui,
deburan dan puncak-puncaknya seperti
berkata-kata
bercerita tentang diri-Mu,
alam semesta,
dan manusia.
Aku diantaranya
yang Engkau ceritakan dalam firman “Kun Fayakuun”.
Gelombang demi gelombang melemparkan diriku ke dalam samudera-samudera-Mu.
Perahu-Mu tanpa henti,
berlayar dan berlabuh,
dari hal ke hal,
dari maqam ke maqam.
Akupun mabuk dalam Samudera Asma-asma dan Sifat-sifat-Mu
hingga tak kurasakan lagi apakah hal dan maqamku
akupun tak peduli lagi.
Kata-Mu,
aku akan Engkau bawa menyaksikan
Kemahaagungan dan Kemahaindahan-Mu,
yang mewujud dalam semua makhluk,
dalam semua bentuk,
mereka semua bertasbih,
mereka semua saling menjalin,
berkelindan,
menyusun kesatupaduan yang mewujudkan Kemahakuasaan-Mu.
Semuanya adalah al-Iradah-Mu,
yang getarkan makhluk dari kegaiban-Mu yang mutlak,
Engkau yang munculkan gelombang awal mula,
Engkau yang letupkan buih-buih kuantum setiap saat,
Engkau yang mengikat kumpulan materi quark,
Engkau yang membangun inti atom,
Engkau yang membentuk atom,
Engkau yang menjalin molekul,
Engkau yang menjalin jaringan,
Engkau yang membentuk organ,
Engkau yang membentuk objek,
Engkau yang munculkan semua makhluk dalam semua wujud,
semuanya ada hanya karena al-Iradah-Mu.

Duh Gusti,
Kemahaagungan apakah yang Engkau singkapkan untukku,
dalam belaian Kemahalembutan dan Mahapemurahan-Mu,
yang tercerap getar-getar qolbuku,
yang mulai melathifah,
tak sanggup lagi merespon,
tak sanggup lagi menerima,
sirnakan semua eksistensi
semua yang tinggal hanya tampakkan wujud-Mu,
akupun sirna, sirna, sirna,
dalam genggaman dan belaian Kemahalembutan-Mu
dari Kemahaagungan dan Kemahaindahan-Mu.

Di Samudera Dzat-Mu
aku terhempas dalam ketenangan Samudera Pemurnian
aku menangis karna aku tak akan pernah menjangkau-Mu
Si Samudra Dzat-Mu
Aku berada dalam kebingungan-kebingungan
karena disana tak ada lagi af’al, asma-asma, dan sifat-sifat.
Semuanya sirna.
Lantas, bagaimanakan aku mengetahui-Mu?

Sebuah cermin mengada mandiri,
Disitu kulihat bayanganku berkata-kata,
”Bukankah Aku Tuhanmu?”
Duh Gusti, aku yang terfanakan dalam Samudera Pemurnian
cuma mampu menyaksikan dengan pra-keabadian
yang terfirmankan oleh-Mu Sendiri,
“Benar,
Engkau – ”Allah”, Yang Maha Esa,
Engkau tempat bergantung,
Engkau tidak beranak dan tidak diperanakkan,
Engkau tak disetarakan dengan apapun,
Engkau tak diserupakan dengan apapun.”
Aku terbaqakan didalam-Nya,
tak sanggup berkata-kata.
Bisu.
Lantas,
Engkau berbisik dengan kemahalembutan-Mu,’
“hambaKu…,
hambaKu…,
hambaKu…”
Dalam kelembutan cinta-Mu yang termurnikan,
aku pun berbisik dengan cinta dan KeMaha Agungan-Mu,
”Allah…
Allah….
Allah…”
adalah aku dalam baqaMu
menjadi hamba-Mu.

 

No Comments